Rabu, 26 Mei 2010

Masalah gizi darurat adalah
keadaan gizi di mana jumlah kurang gizi pada sekelompok masyarakat pengungsi meningkat dan mengancam memburuknya kehidupan.

Sasaran intervensi gizi: seluruh pengungsi terutama kelompok rentan gizi: bumil (ibu hamil), buteki, balita.

Tahapan penyelenggaraan makanan darurat
1. Tahap Penyelamatan
- Fase I:
  • max 5 hari
  • belu ada perencanaan pemberian makanan terinci
  • bertujuan: memberikan makanan agar tidak lapar.
  • kegiatan:
  • ^pemberian makanan jadi dalam waktu sesingkat mungkin
    ^pendataan awal
    ^penyelengaraan dapur umum dengan standar minimal

    - Fase II:
  • 6-14 hari
  • perencanaan pemberian makanan lebih terinci
  • umumnya, bantuan bahan makanan cukup tersedia
  • Kegiatan:
  • ^ pengumpulan & pengolahan data dasar status gizi
    ^ menentukan strategi intervensi berdasarkan analisis status gizi
    ^ merencanakan kebutuhan pangan untuk suplemen gizi
  • menyediakan paket bantuan pangan:
  • ^ pangan diusahakan sesuai kebiasaan & ketersediaan tempat, mudah diangkut, disimpan, dan didistribusikan
    ^ setiap orang menerima 2100 kkal, 40 gr lemak, 50 gr protein
    ^ memberikan penyuluhan ttg kebutuhan gizi & cara pengolahan bahan makanan

    2. Tahap Tanggap Darurat

    * Dimulai selambat-lambatnya pada hari ke-20.
    * Penyelengaraan makanan sesuai jenis intervensi pada tahap I fase 2.
    * Kelompok rentan diberi PMT darurat terbatas atau PMT terapi.
    • PMT darurat terbatas (targeted supplementary feeding programme) adalah pemberian makanan tambahan kepada kelompok rentan yang menderita gizi kurang.
    • PMT terapi (therapeutic feeding programme) adalah pemberian makanan tambahan pada penderita gizi buruk dengan terapi diet.
    * Melakukan penyuluhan gizi.

    Senin, 04 Januari 2010

    Vitamin C, Infeksi, dan Stres

    Kesehatan manusia tdk selamanya berada dalam kondisi optimal karena fluktuasi lingkungan. Tidak menutup kemungkinan bagi semua orang terjangkit zat patogen (seperti virus atau bakteri), mengalami stres fisik dan emosi serta memiliki pola makan yang buruk. Semua hal tsb akan berpengaruh terhadap jalannya metabolisme di dalam tubuh. Sistem kekebalan tubuh (imunitas) yang baik dapat menangkal infeksi virus atau bakteri. Imunitas antara lain dipengaruhi oleh asupan vitamin C yang memadai. Kondisi stres (secara umum) akan menurunkan imunitas dan memboroskan gizi, sehingga dibutuhkan suplementasi vitamin C yang cukup. Dalam suatu penelitian: sejumlah 27% kelompok orang yang mengalami stres ringan segera terjangkit flu ketika diekspos dengan virus flu. Sementara itu, jumlah yang terserang flu menjadi 47% apabila mereka sedang stres berat. Individu dengan sifat pemarah akan memboroskan vitamin C dari tubuhnya, sejumlah 2500 mg atau setara dengan 5 kg jeruk dalam waktu singkat ketika amarahnya meledak. Ini yang barangkali disebut faktornya, mengapa orang-orang yang emosional sering mendapatkan serangan jantung.

    Minggu, 03 Januari 2010

    Vitamin C dan Rokok

    Perokok membutuhkan lebih banyak vitamin C dibandingkan dengan yang tidak merokok berarti akan menyiakan vitamin C dalam tubuhnya. Misal: perokok yang menghabiskan 1,5 bungkus dalam sehari, akan menyiakan 30% vitamin C dalam tubuhnya.

    Peran Vitamin C

    Telah banyak dibuktikan dalam pencegahan penyakit degenerasi jaringan, masalah imunitas, penyembuhan luka, anemia, aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah), dan sebagai pengikat radikal bebas. Vitamin C memegang peranan utama dalam pembentukan kolagen interseluler. Kolagen adalah sejenis protein yang merupakan salah satu komponen utama dari jaringan ikat, jaringan tulang rawan, matriks tulang, dentin, lapisan endotelium pembuluh darah, dan sebagainya. Dilihat dari mekanismenya dalam tubuh, vitamin C merupakan koenzim atau askorbat kofaktor pada berbagai reaksi di dalam tubuh. Salah satu peran utamanya yaitu pada proses hidroksi prolin dan hidroksi lisin untuk menjadi hidroksi prolin dan hidroksi lisin. Kedua komponen inilah yang merupakan bahan pembentuk kolagen yang penting. Vitamin C juga penting dalam pembentukan trombosit dan aktivitas dari sel darah putih. Oleh karena itu, vitamin C memegang peranan penting untuk kelangsungan hidup jaringan ikat, jaringan tulang rawan, lapisan endotelium pembuluh darah, dan lain sebagainya. Dengan demikian, vitamin C berperan penting pada proses penyembuhan luka dan adaptasi tubuh terhadap trauma maupun infeksi. Vitamin C juga berhubungan dengan proses respirasi sel dan kerja enzim, yang proses metabolismenya belum sepenuhnya diketahui. Adapun peranan vitamin C adalah 1. Oksidasi fenilalanin menjadi tirosin. 2. Reduksi ion ferri menjadi ferro dalam saluran pencernaan sehingga besi lebih mudah diserap dan menimbulkan zat besi dari transferin dalam darah ke ferritin dalam sumsum tulang, hati, dan limpa. 3. Pengubahan asam folat menjadi asam folinat yang aktif dalam metabolisme. 4. Diperkirakan berperan dalam biosintesa hormon steroid dari kolesterol.

    Pendahuluan

    Vitamin C pertama kali dimurnikan oleh Albert Szent Gyorgyi (ahli biokimia Hungaria), yang kemudian diberi nama asam askorbat. Nama tersebut diberikan untuk menunjukkan bahwa senyawa vitamin C bersifat asam dan dapat mencegah atau menyembuhkan skorbut. Kini, vitamin C dikenal sebagai master of nutrient, fungsinya bukan hanya sekedar sebagai obat anti sariawan. Tidak ada peraturan tepat yang dapat menunjukkan berapa kebutuhan vitamin C seseorang pada saat tertentu. Beberapa ilmuan seperti Linus Pauling (ilmuan vitamin C) menganjurkan asupan sekitar 1000-3000 mg. Sedangkan Robert Catchart menyarankan kita menggunakan teknik toleransi perut, yakni dosis vitamin C yang mampu mengatasi masalah kesehatan tanpa menimbulkan diare. Maksudnya: terjadinya diare dijadikan sebagai cut off point atau pembatas dosis tertinggi yang bisa diterima oleh tubuh pada masing-masing individu. Artinya: jika kita mengkonsumsi vitamin C, misal dengan menelan tablet vitamin C 1000 mg, kemudian menimbulkan diare, maka perlu diturunkan menjadi 750 atau 500 mg.

    Jumat, 04 Desember 2009

    Pemeriksaan Laboratorium

    Penilaian Status Gizi secara Biokimia

    Ada 2 yaitu:
    1. Statistik Biochemical Test (cairan dan jaringan tubuh, seperti: darah, urin, rambut, kuku)
    2. Fumetiral Biochemical Test (Fungsi kognitif, pengecapan, penglihatan)

    Faktor yang mempengaruhi interpretasi hasil pemeriksaan biokimia:
    1. Pengaturan homeostasis
    2. variasi jurnal
    3. kontaminasi sampel
    4. keadaan fisiologis
    5. infeksi
    6. status hormonal
    7. latihan fisik
    8. umur, jenis kelamin, dan etnik
    9. akurasi dan presisi dari metode analisis
    10. asupan makanan terakhir
    11. hemolisis untuk serum
    12. obat-obatan
    13. keadaan penyakit
    14. interaksi zat gizi
    Mis: Fe dan seng sulit terserap. Jika keduanya masuk secara bersamaan dalam tubuh dan salah satunya dalam tubuh memiliki konsentrasi yang lebih tinggi maka yang paling tinggi konsentrasinya lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan yang konsentrasinya rendah.
    15. Stres inflamasi
    Terjadinya inflamasi maka akan mempengaruhi penyerapan zat gizi.
    16. Penurunan berat badan
    17. prosedur pengambilan sampel dan pengumpulan sampel.
    Terkait dengan desain penelitian.
    18. Sensitifitas dan spesifisitas dari metode analisis.

    Pemilihan Tes Laboratorium
    1. Presisi
    2. Akurasi
    3. sensitivitas analisis
    4. spesifisitas analisis
    5. nilai prediksi
    6. validitas
    7. tujuan analisis

    Pemeriksaan Klinik (assesment clinic)
    dilakukan dengan melakukan penelusuran riwayat penyakit disertai dengan pemeriksaan fisik untuk mengetahui tanda-tanda fisik (oleh yang terlatih) dan gejala penyakit (berupa manifestasi penyakit yang dilaporkan pasien) yang berhubungan dengan malnutrisi

    Terbagi 2 yaitu:
    1. riwayat medis/penyakit (medical history)
    2. pemeriksaan fisik

    1. Riwayat Penyakit (RP)
    mencatat semua kejadian2 yang berhubungan dengan gejala yang timbul pada penderita beserta faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit.

    Catatan meliputi:
    a. identitas penderita
    b. lingkungan fisik dan sosial budaya yg berkaitan dengan timbulnya penyakit tsb (malnutrisi)
    c. sejarah timbulnya gejala penyakit

    Semua data dikumpulkan dengan cara wawancara pd penderita dan keluarganya, atau dg observasi langsung pada rumah dan lingkungan penderita. Lebih dianjurkan melakukan wawancara dengan mengajukan pertanyaan terbuka, misal: "apa yang anda rasakan saat bangkit dari tempat tidur?".

    2. Pemeriksaan Fisik
    pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi, yg diduga sbg akibat dr kekurangan gizi, yg dapat dilihat atau dirasakan pada jaringan.

    - tanda fisik yang kemungkinan dua arah
    - ketidakkonsistenan dari pemeriksa
    - variasi yg berbeda dari tanda fisik

    Cat:
    Pengukuran Lingkar Kepala untuk penilaian status gizi diperuntukkan bagi individu yang masih mengalami pertumbuhan. Jadi, pengukuran lingkar kepala pada lansia tidak sesuai untuk menilai status gizinya.

    Rabu, 13 Mei 2009

    Perubahan Gizi pada Penderita Kanker

    Penurunan berat badan dapat disebabkan karena:
    - asupan makanan yang kurang
    - Absorbsi yang tidak baik (misal: terjadi kanker usus, dll)

    Penurunan berat badan dapat dijadikan salah satu tanda bahwa seseorang mengidap kanker.

    JADI, salah satu tugas pokok ahli gizi dalam menangani penderita kanker adalah
    menahan agar BB (berat badan) penderita kanker tidak turun.

    TAPI, tidak semua penderita kanker mengalami penurunan berat badan/kurus (kakeksia). Seperti pada penderita kanker payu dara, ada yang mengalami kegemukan.

    Penderita kanker membutuhkan gizi yang banyak. Dengan kata lain, terjadi peningkatan kebutuhan akan zat gizi (energi, dll).
    Misalnya kebutuhan akan energi karena di dalam tubuh penderita terjadi gangguan metabolik sehingga pada proses metabolisme dibutuhkan energi yang lebih banyak dibandingkan yang normal untuk mencegah dan memperbaiki kondisi metabolik yang lemah.